Wanita Wajib Tahu Bahaya Penyakit Vulvitis

Khususnya para wanita, pernah mengalami rasa gatal, bengkak dan ketidaknyaman lainnya pada organ intim anda? Waspadalah mungkin saja itu merupakan gejala dari vulvitis. Vulvitis bukanlah penyakit, akan tetapi kondisi ini merupakan gejala dari penyakit yang memengaruhi organ intim wanita.

Vulvitis merupakan infeksi atau peradangan yang terjadi pada organ intim luar wanita yang disebut dengan vulva. Vulva sendiri meliputi labia, klitoris dan pintu masuk (vestibulum) ke vagina. Karena lembap, kulit vulva akan sangat rentan mengalami iritasi. Dan iritasi bisa disebabkan oleh infeksi, reaksi alergi atau luka. Wanita berbagai usia bisa mengalami vulvitis. Akan perempuan yang belum mencapai usia pubertas atau wanita pascamenopause beresiko lebih tinggi mengalami vulvitis. Tingkat estrogen yang lebih rendah bisa membuat mereka lebih rentan terhadap kondisi ini karena jaringan pengering vulva yang lebih tipis.

Vulva merupakan lipatan kulit yang terletak di bagia paling luar dari organ intim wanita, akan tetapi sering disalahartikan oleh orang awam sebagai vagina. Padahal vagina merupakan liang atau saluran yang terletak lebih dalam setelah melewati vulva. Vulva terdiri dari 2 labia yaitu (bibir) mayora, 2 labira minora dan klitoris.

Kulit vulva rentan mengalami iritasi karena suhu di daerah vulva lembab dan hangat. Anak-anak perempuan yang belum mengalami pubertas dan wanita postmenopause beresiko tinggi mengalami kondisi ini. Dalam usia tersebut, wanita cenderung mempunyai kadar hormon estrogen yang rendah sehingga jaringan vulva menjadi lebih kering dan lebih tipis.

Gejala Vulvitis


Vulvitis menimbulkan gejala yang bervariasi, tergantung dari penyebab peradangan pada vulva. Sangat disarankan untuk tidak menggaruk alat kelamin apabila muncul rasa gatal, karena beresiko menyebabkan iritasi berkembang menjadi infeksi.

Gejala-gejala vulvitis diantaranya yaitu :

  • Keputihan
  • Bengkak dan merah di labia vulva
  • Benjolan berisi cairan (blister) pada vulva
  • Kulit bersisik dan area putih yang menebal di vulva
  • Rasa seperti terbakar dan kulit pecah-pecah disekitar vulva
  • Rasa sangat gatal di alat kelamin terutama pada malam hari.

Perlu diingat bahwa gejala-gejala diatas bisa saja disebabkan oleh penyakit lain seperti vulvitis. Untuk itu konsultasikan dengan dokter bila anda mengalami sejumlah gejala diatas.

Pada vulvitis karena infeksi jamur, gejala bisa berupa gatal berat dan keputihan dengan lendir putih kekuningan kental seperti keju, sedangkan pada infeksi bakteri bisa timbul nyeri atau gatal pada kemaluan disertai keputihan berwarna keabu-abuan yang berbau amis. Infeksi virus seperti herpes bisa menimbulkan nyeri akibat luka dan muncul lepuhan pada kemaluan yang berisi cairan.

Penyebab Vulvitis


Peradangan pada vulva bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi seperti :

  • Infeksi. Tidak hanya vagina, vulva juga bisa terinfeksi bakteri, virus atau jamur. Contoh penyebab infeksi pada vulva adalah herpes genital, jamur candida, infeksi HPV, kutu kemaluan dan skabies
  • Iritasi. Beberapa produk rumah tangga yang bisa menyebabkan iritasi, seperti tisu toilet, sabun mandi, sampo dan kondisioner yang mengandung parfum, deodoran, bedak, semprotan organ intim, spermisida, serta pakaian dalam yang bukan berbahan katun. Iritasi juga bisa terjadi setelah berenang atau berendam di fasilitas umum, bersepeda, serta menunggang kuda
  • Penyakit Kulit. Beberapa penyakit kulit yang bisa memengaruhi kesehatan vulva, diantaranya yaitu psoriasis, lichen planus dan lichen sclerosus
  • Estrogen Rendah. Vulvitis bisa terjadi akibat kadar estrogen yang rendah, seperti saat menopause. Vulvitis yang terjadi dikaitkan dengan peradangan vagina akibat vagina menjadi kering
  • Vulvodynia. Seseorang yang menderita vulvodynia akan mengalami rasa tidak nyaman atau nyeri, seperti tersengat atau terbakar, yang bersifat kronis pada area vagina dan vulva, tanpa adanya penyebab yang jelas
  • Kanker Vulva. Kanker vulva jarang terjadi, dan umumnya menyerang wanita berusia di atas 60 tahun. Tandanya diawali dengan benjolan atau luka pada vulva. Ketahui juga 6 hal yang menyebabkan vulvitis dan pengobatannya ini.

Komplikasi Vulvitis


Vulvitis yang ditangani dengan baik bisa disembuhkan. Apabila tidak, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi. Sebagai contoh, gatal-gatal pada organ intim wanita atau pruritas pada malam hari bisa menyebabkan gangguan tidur dan mengurangi kualitas hidup. Tidak hanya itu, sikap cemas dan gangguan psikologis lainnya yang bisa memicu terjadinya gangguan psikoseksual.

Pemeriksaan terhadap penyakit yang mendasari terjadinya vulvitis harus dilakukan dengan seksama guna menghasilkan penanganan yang tepat. Karena tidak hanya akan menyulitkan proses penyembuhan, penyebab vulvitis yang tidak terdeteksi bisa pula berakibat fatal, misalnya kanker vulva.

Perawatan Vulvitis Di Rumah


Ada beberapa cara mengobati vulvitis di rumah, diantaranya yaitu:

  • Hentikan penggunaan produk yang menyebabkan iritasi atau alergi
  • Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang nyaman dan tidak terlalu ketat
  • Dokter anda mungkin juga akan meresepkan penggunaan salep kortison di daerah yang terkena dampak iritasi beberapa kali dalam sehari. Hal ini bisa membantu mengurangi iritasi dan gatal
  • Penggunaan krim estrogen topikal juga bisa mengatasi rasa gatal dan gejala vulvitis lainnya
  • Krim antijamur seperti butoconazole, clotrimazole, miconazole, dan terconazole. Antijamur oral untuk jamur vagina dan vulvitis meliputi fluconazol
  • Antivirus seperti acylovir apabila disebabkan oleh herpes genital
  • Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri
  • Apabila terjadi gatal yang sangat parah, maka dokter mungkin menyarankan anda mengonsumsi tablet antihistamin untuk mengurangi rasa gatal.Tetapi jenis obat ini bisa menyebabkan kantuk dan meningkatkan tekanan darah. Anda bisa berkonsultasi jika mempunyai riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya
  • Jika penyebab vulvitis anda adalah kadar estrogen rendah, pemberian tablet vagina yang mengandung hormon estrogen bisa menjadi solusi yang membantu mengatasi vulvitis.

Pengobatan Vulvitis


Pengobatan vulvitis bergantung pada kondisi yang menyebabkan. Apabila vulvitis disebabkan oleh infeksi, maka pemakaian obat antibiotik atau antijamur menjadi langkah pengobatan yang tepat. Dokter akan meresepkan salep kortikosteroid untuk digunakan beberapa kali dalam sehari. Salep ini bisa membantu mengurangi rasa gatal dan iritasi pada vulva.Tidak hanya kortikosteroid, krim emolien dan tablet antihistamin juga bisa digunakan untuk mengurangi gatal.

Dokter juga bisa menyarankan pemakaian krim, pessarium atau tablet vagina yang mengandung hormon estrogen, bila vulvitis disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang rendah. Bagi penderita vulvodynia, krim anestesi lokal dan tindakan operasi bisa juga menjadi bentuk penanganan yang disarankan oleh dokter.

Bentuk pengobatan vulvitis dipengaruhi sejumlah faktor, seperti riwayat kesehatan, usia, penyebab penyakit dan gejala, serta toleransi terhadap obat-obatan tertentu. Konsultasikan kepada dokter bila anda mengalami gejala vulvitis, agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Anda juga bisa mencoba menggunakan obat herbal untuk mengobati Vulvitis. Obat herbal ini bisa anda gunakan apabila anda tidak cocok atau mempunyai alergi dengan obat-obatan kimia dan tidak ingin melalukan jalan operasi. Mengapa harus obat herbal? Karena obat herbal ini terbuat dari bahan yang alami sehingga akan sangat aman untuk dikonsumsi semua kalangan usia dari anak-anak hingga lanjut usia tanpa menimbulkan efek samping walaupun dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Obat herbal ini solusi yang tepat untuk pencegahan ataupun obat pendamping untuk membantu proses penyembuhan Vulvitis.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Ngecopy yahh : )